Senin, 03 Oktober 2016 - 10:04:27 WIB
Dam Parit Mampu mengairi 30 Hektar Areal Persawahan di Nawangan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Sarana Prasarana - Dibaca: 684 kali


Kehormatan Petani, Maju Sejatera, Masyarakat Dusun Sendang Desa Nawangan Kacamatan Nawangan sangat merasakan sekali manfaat Dam Parit yang dibangun oleh Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan.

Dari keluhan yang dirasakan masyarakat, bahwa selama ini ada potensi air yang sangat banyak dan belum bisa digunakan secara maksimal mumbuahkan usulan pembangunan Dam Parit. Realisasi tersebut sekarang ini sudah tdirasakan dan mampu mengairi 30 Hektar areal persawahan yang ada.

Menurut Ir.Pamuji, MP hasil survai yang dilakukan oleh Tim Teknis Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan di Dusun Sendang, Desa Nawangan memang secara tenis bisa di buat Dam Parit dengan pertimbangan terdapat parit - parit alamiah atau sungai kecil dengan debit air yang memadai untuk keperluan irigasi, ada saluran air untuk menghubungkan Dam Parit ke lahan usahatani yang akan diairi, ada kesanggupan petani yang bergabung dalam kelompok tani membuat saluran air secara partisipatif.

Yang tidak kalah pentinganya adalah letak Dam Parit yang perlu memperhatikan kemudahan membendung dan memdistribusikan air, serta struktur tanah yang kuat untuk pondasi bendung.

Beliau juga menambahkan dalam penyusunan desain Dam Parit perlu diperhatian hal sebagai berikut, penempatan bendung yang paling efisien dalam penyaluran air yang sebaiknya dekat dengan saluran irigasi yang sudah ada, konstruksinya kuat menahan debit puncak dan mudah dalam operasional dan pemeliharaan.

Setelah melihat pertimbangan secara teknis dan sarat yang ada maka menentukan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL), desain Dam Parit disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat, antara lain topografi lahan, sumber air yang digunakan, jenis tanah, jenis usahatani.

Teknologi Dam Parit (channel reservoir) diharapkan dapat mendayagunakan aliran permukaan melalui penampungan air saat kelebihan (musim hujan), dan mendistribusikannya kembali saat kekurangan (musim kemarau).

Adanya debit aliran permukaan yang cukup tinggi terutama pada saat musim hujan turun sering menimbulkan banjir di daerah hilir dan erosi serta pencucian hara di daerah yang dilaluinya.

Apalagi hujan terjadi dengan intensitas tinggi dalam waktu cukup lama dan terjadi berturut-turut, maka banjir yang ditimbulkannya akan lebih besar lagi. Sebaliknya pada musim kemarau, ketersediaan air sangat terbatas bahkan sangat langka, mengakibatkan sebagian lahan kering pertanian tidak dapat diusahakan (dibiarkan bera). Kondisi ini akan menurunkan luas tanam, intensitas tanam, dan produktivitas lahan.

Dengan semakin luasnya lahan yang dapat diairi, maka akan terjadi perubahan jenis dan pola tanam. Terjadi perubahan pola penggunaan lahan (padi sawah, palawija) dan jenis komoditas (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, sayuran, dan buah-buahan). Hal ini berarti akan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani.