SOP Kesehatan Hewan
Diposting tanggal: 06 Oktober 2016

Standard Operational Procedure (SOP)
RUMAH POTONG HEWAN
I. Landasan Hukum
1. Undang undang Nomor 18 Tahun 2009 Tanggal 4 Juni 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tanggal 13 Juni 1983 Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.
3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 381 Tanggal 19 Oktober 2005 Tentang Pedoman Sertivikasi Kontrol, Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan.
4. Perda Nomor 7 Tahun 2000 Tentang Retribusi Rumah Potong Hewan.

Maksud dan Tujuan
1. Menetapkan standar kerja di Rumah Potong Hewan.
2. Menjamin kualitas produk Rumah Potong Hewan.
3. Menjamin ketersediaan daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).

Tahap Penerimaan dan Penampungan Hewan, prosedur operasional meliputi:
1. Hewan ternak yang baru datang di RPH harus diturunkan dari alat angkut dengan hati-hati dan tidak membuat hewan stress.
2. Dilakukan pemeriksaan dokumen (surat kesehatan hewan, surat keterangan asal hewan, surat karantina, dsb).
3. Hewan ternak harus diistirahatkan terlebih dahulu di kandang penampungan minimal 12 jam sebelum dipotong.
4. Hewan ternak harus dipuasakan tetapi tetap diberi minum kurang lebih 12 jam sebelum dipotong.
5. Penarikan Retribusi Rumah Potong Hewan sesuai Perda Kab. Pacitan Nomor: 07 Tahun 2000 Jenis Pelayanan Pemakaian Kandang Istirahat dikenakan Rp 1.500,00/ekor (Sapi/kerbau) atau Rp. 250,00 (kambing/domba).
6. Hewan ternak harus diperiksa kesehatannya sebelum dipotong (pemeriksaan antemortem).

Tahap Pemeriksaan Antemortem:
1. Pemeriksaan antemortem dilakukan oleh dokter hewan atau petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan.
2. Hewan ternak yang dinyatakan sakit atau diduga sakit dan tidak boleh dipotong atau ditunda pemotongannya, harus segera dipisahkan dan ditempatkan pada kandang isolasi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
3. Apabila ditemukan penyakit menular atau zoonosis, maka dokter hewan/petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan harus segera mengambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
4. Penarikan Retribusi Rumah Potong Hewan sesuai Perda Kab. Pacitan Nomor: 07 Tahun 2000 Jenis Pelayanan Pemeriksaan Antemortum dikenakan Rp 3.000,00/ekor (Sapi/kerbau) atau Rp. 600,00 (kambing/domba).
5. Untuk Ternak Betina harus dilakukan pemeriksaan organ reproduksi dan dilakukan penarikan Retribusi Rumah Potong Hewan sesuai perda nomor 07 tahun 2000 jenis pelayanan Pemeberian Surat Keterangan Cap S Rp 7.000,00.

Persiapan Penyembelihan/Pemotongan, prosedur operasionalnya:
1. Ruang proses produksi dan peralatan harus dalam kondisi bersih sebelum dilakukan proses penyembelihan/pemotongan.
2. Hewan ternak harus dibersihkan terlebih dahulu dengan air (disemprot air) sebelum memasuki ruang pemotongan.
3. Hewan ternak digiring dari kandang penampungan ke ruang pemotongan melalui gang way dengan cara yang wajar dan tidak membuat stress.

Penyembelihan:
1. Ternak dijatuhkan menggunakan tata cara menjatuhkan hewan yang dapat meminimalkan rasa sakit dan stress.
2. Apabila hewan ternak telah rebah dan telah diikat (aman) segera dilakukan penyembelihan sesuai dengan syariat Islam yaitu memotong bagian ventral leher dengan menggunakan pisau yang tajam sekali tekan tanpa diangkat sehingga memutus saluran makan, nafas dan pembuluh darah sekaligus.
3. Proses selanjutnya dilakukan setelah hewan ternak benar-benar mati dan pengeluaran darah sempurna.
4. Setelah hewan ternak tidak bergerak lagi, leher dipotong dan kepala dipisahkan dari badan, kemudian kepala digantung untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya.
5. Penarikan Retribusi Rumah Potong Hewan sesuai Perda Kab. Pacitan Nomor: 07 Tahun 2000 Jenis Pelayanan Pemakaian Tempat Pemotongan dikenakan Rp 3.000,00/ekor (Sapi/kerbau) atau Rp. 500,00 (kambing/domba).

Tahap Pengulitan:
1. Sebelum proses pengulitan, harus dilakukan pengikatan pada saluran makan di leher dan anus, sehingga isi lambung dan feses tidak keluar dan mencemari karkas.
2. Pengulitan dilakukan bertahap, diawali membuat irisan panjang pada kulit sepanjang garis dada dan bagian perut.
3. Irisan dilanjutkan sepanjang permukaan dalam (medial) kaki.
4. Kulit dipisahkan mulai dari bagian tengah ke punggung.
5. Pengulitan harus hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada kulit dan terbuangnya daging.

Pengeluaran Jeroan:
1. Rongga perut dan rongga dada dibuka dengan membuat irisan sepanjang garis perut dan dada.
2. Organ-organ yang ada di rongga perut dan dada dikeluarkan dan dijaga agar rumen dan alat pencernaan lainnya tidak robek.
3. Dilakukan pemisahan antara jeroan merah (hati, jantung, paru-paru, tenggorokan, limpa, ginjal dan lidah) dan jeroan hijau (lambung, usus, lemak dan esophagus).

Tahap Pemeriksaan Postmortem:
1. Pemeriksaan postmortem dilakukan oleh dokter hewan atau petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan.
2. Pemeriksaan postmortem dilakukan terhadap kepala, isi rongga dada dan perut serta karkas.
3. Karkas dan organ yang dinyatakan ditolak atau dicurigai harus segera dipisahkan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
4. Apabila ditemukan penyakit hewan menular dan zoonosis, maka dokter hewan/petugas yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan harus segera mengambil tindakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
5. Penarikan Retribusi Rumah Potong Hewan sesuai Perda Kab. Pacitan Nomor: 07 Tahun 2000 Jenis Pelayanan Pemeriksaan Post Mortum dikenakan Rp 2000,00/ekor (Sapi/kerbau) atau Rp. 400,00 (kambing/domba).

Pembelahan Karkas, dengan tahapan:
1. Karkas dibelah dua sepanjang tulang belakang dengan kampak yang tajam.
2. Karkas dapat dibelah dua/empat sesuai kebutuhan.

Pelayuan:
1. Karkas yang telah dipotong/dibelah dapat disimpan sementara.
2. Karkas selanjutnya siap diangkut ke pasar.
Standard Operational Procedure (SOP)

PEMERIKSAAAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA TERNAK SAPIi
Oleh Petugas Ahli Teknik Reproduksi (ATR)
I. Landasan Hukum.
1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977, Tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner;
4. Peraturan Menteri Pertanian No. 64/Permentan/OT.140/9/2007 tentang Pedoman Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan);
5. Keputusan Bupati Nomor
Maksud dan Tujuan
1. Menunjang program peningkatan produktifitas ternak dalam mensuplai swasembada pangan asal hewani;
2. Menanggulangi penyakit gangguan reproduksi pada ternak.
3. Meneguhkan diagnosa penyakit gangguan reproduksi ternak dan selanjutnya dapat dilakukan tindakan medis berupa pengobatan ataupun tindakan lainnya pada ternak sapi tersebut;
4. Mendukung keberhasilan program inseminasi buatan;
5. Meningkatkan pendapatan petani peternak melalui perbaikan status reproduksi ternak;

Sasaran / Obyek 1. Pelayanan Pemeriksaan Gangguan Reproduksi pada ternak sapi melalui petugas ATR;
2. Ternak sapi yang akan diperiksa yaitu ternak sapi yang sudah kawin IB atau kawin alam 2 kali periode berturut-turut tidak menunjukkan gejala kebuntingan, atau sapi betina dewasa yang tidak menunjukkan gejala birahi sama sekali.

Petugas ATR dan syarat minimal pendidikan dan atau keahlian :
1. Dokter Hewan Dinas ataupun Dokter Hewan Praktisi yang telah lulus dan mempunyai ijasah Dokter Hewan yang sah dari perguruan tinggi Negeri ataupun Swasta;
2. Staff Dinas yang membidangi Kesehatan Hewan yang berijasah minimal D3 Kesehatan Hewan dan atau telah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan ATR yang diselenggarakan oleh Pemerintah baik Pusat, Propinsi ataupun Kabupaten/Kota dan dibawah Penyeliaan dari Dokter Hewan;
Jumlah minimal
Jumlah petugas minimal untuk melakukan pemeriksaan ATR pada ternak sapi sejumlah 1 orang Dokter Hewan dan atau Paramedis dan atau Staff Bidang Kesehatan Hewan (seperti yang disebutkan pada poin IV) yang dibantu oleh 1 orang assisten atau pemilik ternak sendiri.

System Operating Procedure
1. Alat dan Bahan.
a. Kandang jepit dan tali untuk handling / fiksasi ternak yang akan diperiksa (sapi, kambing), yang disiapkan oleh pemilik ternak;
b. Pakaian lapangan (Catel pack);
c. Stetoskop.
d. Alat pengukur suhu badan (termometer);
e. Spuit disposible ukuran 5 ml, 10 ml;
f. Peralatan IB yang steril (Gun dan plastik sit);
g. Hand Glove dari plastik tipis ukuran panjang (untuk tangan);
h. Timba / ember plastik;
i. Bahan pelicin untuk tangan (hand body / sabun mandi);
j. Air hangat;
k. Obat-obatan.
l. Alkohol 70 % (untuk kulit), Iodine dan Desinfektan (untuk barang).
m. Masker (tutup hidung dan mulut);
n. Sepatu lapangan (sepatu Boot);
o. Alat tulis kertas dan bollpoin.
2. Persiapan handling / fiksasi ternak sapi;
Prinsip dari handling / fiksasi ternak sapi ini yaitu memberikan rasa aman dan nyaman serta tidak menyakiti ternak sapi sesuai dengan prinsip Animal Welfare (kesejahteraan hewan) serta sekaligus memberikan rasa aman kepada petugas selama melakukan pemeriksaan kebuntingan. Adapun tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Sapi yang akan diperiksa dibuat setenang mungking yaitu dengan mengikat bagian keluh ke salah satu ujung depan dari kandang jepit (kiri / kanan);
b. Melilitkan tali ke seluruh bagian tubuh sapi yang mengenai bagian atas lutut sapi baik bagian dari kaki depan dan kaki belakang;
3. Pemeriksaan secara umum kondisi kesehatan ternak sapi oleh Dokter Hewan dan atau petugas pemeriksa PKB lainnya yang meliputi pemeriksaan dan pencatatan :
Petugas Dokter Hewan / Paramedis menanyakan kepada pemilik sapi, kapan sapi terakhir kali dikawinkan. Jika sudah 2-3 kali periode kawin berturut turut tidak menunjukkan tanda-tanda kebuntingan, dan atau sudah dewasa dan umur lebih dari 2 tahun tidak menunjukkan gejala birahi sama sekali maka selanjutnya dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Dokter Hewan dan atau petugas pemeriksa ATR memeriksa kondisi tubuh secara teliti dan seksama meliputi berat badan, kelainan-kelainan yang ada dan selanjutnya dengan menggunakan stetoskop melakukan pemeriksaan terhadap denyut jantung, nafas dan bagian perut bagian belakang untuk mengetahui kondisi induk dan fetus; dan kemudian melanjutkan pemeriksaan mata, hidung dan mulut;
b. Untuk mengetahui suhu tubuh ternak sapi, ujung termometer badan (digital) dimasukkan ke bagian rectum, dan setelah 3 menit atau setelah ada tanda bunyi, berarti sudah selesai dan termometer di cabut / lepas dari rectum dan dibaca skala ataupun angka yang tercatat di termometer tersebut;
c. Melihat warna bulu tubuh, hal ini dikarenakan induk yang sedang bunting maka akan merangsang hormon tertentu dari tubuh dan selanjutnya akan membuat bulu tubuh lebih halus, lembut dan mengkilat jika dilihat dan diraba/dilihat;
d. Melihat dan memeriksa bagian perut apakah ada perubahan pembesaran dari ukuran normal dan selanjutnya dilakukan palpasi ataupun perabaan, hal ini dikarenakan untuk memeriksa dari luar pembersaran perut tersebut diakibatkan kebuntingan atau akibat kelainan;
4. Pemeriksaan ATR secara manual melalui rectum :
a. Pemeriksa ATR yaitu Dokter Hewan dan atau paramedis mengambil dan memasang Hand Glove di kedua tangan baik kanan maupun kiri;
b. Selanjutnya tangan yang sudah terpasang Hand Glove tersebut dibasahi dengan air hangat yang ada di timba / ember dan di olesi dengan pelicin ataupun sabun mandi, hal ini untuk membantu dan memudahkan ketika salah satu tangan kita untuk masuk ke rectum sapi;
c. Petugas mengambil posisi yang dianggap aman tepat menghadap bagian belakang sapi, dimana bagian posisi kedua kaki tidak sejajar melainkan agak miring yang disesuaikan dengan kebiasan petugas; kalau biasa menggunakan tangan kanan maka posisi kaki kanan didepan dan kaki kiri sedikit ditarik ke belakang, dan apabila petugas tersebut biasa menggunakan tangan kiri (kidal) maka kaki kiri ada di depan dan kaki kanannya sedikit ditarik kearah belakang;
d. Misalnya petugas ATR yang terbiasa menggunakan tangan kiri, maka selanjutnya petugas tersebut mengambil bagian ekor dengan tangan kanan dan menyampirkan ke bagian pundak kita bagian kiri agar tidak menutupi bagian rectum pada saat tangan kiri kita masuk ke rectum untuk melakukan pemeriksaan gangguan reproduksi;
e. Selanjutnya petugas memasukkan tangan kiri ke rectum sapi secara hati-hati dan pelan-pelan, kalau ada perejanan dari sapi maka kita hentikan sebentar dan tangan kanan kita atau minta bantuan asisten / pemilik untuk mengurut bagian belakang atas sapi (bagian lumbal) sampai sapi tersebut tidak berontak dan atau merejan, hal ini dikarenakan apabila terjadi perejanan maka tangan kita tidak dapat masuk lebih dalam dari bagian rectum karena adanya penolakan dan dorongan dari dalam rectum sapi;
f. Seteleh sapi tenang maka sedikit tangan kiri yang telah masuk ke rectum dimasukkan lebih dalam lagi menuju kedepan, kalau di depan ada kotoran maka kotoran tersebut harus di keluarkan dari rectum sehingga tidak menghalangi dan mengganggu pemeriksaan gangguan reproduksi ;
g. Setelah tangan masuk dan dianggap cukup selanjutnya arahkan tangan kita ke bawah dan berusaha untuk dapat memegang saluran reproduksi bagian servik;
h. Setelah dapat memegang servik maka arahkan tangan kita ke depan atau maju sedikit demi sedikit sambil diraba dan dirasakan bentukan yang ada, (jika ada gerakan induk sapi yang merejan maka kita hentikan sebentar aktivitas perabaan dan lakukan pengurutan pada bagian belakang atas sapi tersebut) ;
i. Selanjutnya kita melakukan pemeriksaan dengan seksama untuk mengamati perubahan dan pembesaran yang terjadi pada uterus sapi ;
j. Setelah memeriksa uterus dilanjutkan dengan perabaan dan pemeriksaan bagian folikel, disini juga dilakukan perabaan terhadap seluruh permukaan folikel dan mengamati perubahan yang terjadi pada setiap folikel yang ada dan tumbuh;
k. Setelah dianggap cukup untuk pemeriksaan gangguan reproduksi maka menyimpulkan dan memberikan diagnosa gangguan reproduksi yang ada pada ternak sapi tersebut dan menyampaikannya pada pemilik ternak;
l. Setelah pemilik mengetahui jenis penyakit gangguan reproduksi tersebut selanjutnya dilakukan pengobatan secara medis baik secara intra muskuler ataupun intra vaginal;
m. Setelah semua selesai pengobatannya maka selanjutnya tangan kita keluarkan secara berlahan-lahan dari rectum sapi;
n. Setelah tangan kita keluar, selanjutnya kita mengambil air yang ada di timba/ember untuk diguyurkan pada bagian belakang rectum dan sekitanya agar bersih kembali;
o. Setelah bagian belakang sapi sudah bersih maka selanjutnya hand glove kita lepaskan dari kedua tangan kita, masker yang menutup hidung dan mulut juga dilepas dan selanjutnya kita buang ditempat sampah, yang selanjutnya dibakar.
p. Meninggalkan kandang maka sepatu harus disemprot dengan desinfektan bagian bawah dan samping untuk mematikan mikroorganisme bibit penyakit yang menempel di sepatu, selanjutnya menuju kamar mandi untuk melepas sepatu dan membersihkannya dengan air sabun dan membilasnya sampai bersih, kemudian berganti dengan sepatu biasa;
q. Begitu pula dengan pakaian catle pack yang kita pakai juga dilepas dan berganti dengan pakaian biasa, dimana pakaian catel pack kita bungkus dengan rapi dan sesampai dirumah dicuci dengan sabun dan dibilas sampai bersih kemudian dikeringkan;
r. Kemudian membersihkan kedua tangan kita dengan air sabun dan dibilas sampai bersih dan terakhir memakai alkohol 70 % untuk desinfektan dan meminimalkan kejadian penyakit kulit;
s. Memberikan advise, saran dan catatan penting kepada pemilik ternak untuk senantiasa memperbaiki dan menjaga manajemen pemeliharaan, pemberian pakan yang baik, berkualitas dan seimbang, serta menjaga kesehatan induk dan calon anak serta melaporkan jika terjadi gangguang kesehatan ternak tersebut;
t. Mencatat semua hasil pemeriksaan mulai awal sampai akhir yang dibutuhkan untuk recording ternak tersebut dan di catat dalam buku kegiatan pelayanan Kesehatan Hewan;
u. Melaporkan kegitan tersebut secara berkala ke pimpinan dan atau ke Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan; atau ke Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur sebagai bentuk kegitan pelayanan kesehatan hewan;
v. Keterangan tambahan, setiap selesai melakukan pemeriksaan PKB diharapkan petugas sesampai dirumah dapat lekas mandi dengan sabun dan dibilas sampai bersih;
5. Monitoring dan evaluasi
a. Senantiasa mengontrol dan mengevaluasi kesehatan induk selama 1 - 2 bulan yaitu sesuai saran atau advise yang telah diberikan oleh Dokter Hewan atau Petugas ATR, serta perlu adanya partisipasi dari pemilik ternak untuk melaporkannya ke petugas apabila dijumpai masalah kesehatan dari ternak sapi tersebut;
b. Apabila dalam perjalanan dan induk dikawinkan lagi dengan kawin IB setelah 2 bulan dari penangan gangguan reproduksi dan 2 kali periode IB tidak menunjukkan tanda tanda kebuntingan maka demi kesejahteraan peternak perlu dipertimbangkan secara ekonomis yaitu induk tersebut di jual atau dipotong karena tidak produktif.
c. Begitu pula dengan sapi dewasa yang tidak menunjukkan gejala birahi dan setelah masa treatmen 1-2 bulan juga tidak dijumpai tanda birahi maka perlu diperiksakan lagi ke Dokter Hewan atau petugas ATR, namun apabila memang dari hasil pemeriksaan tersebut dianggap tidak menguntungkan karena adanya gangguan reproduksi ternak yang tidak dapat diobati maka dipertimbangkan secara ekonomi yaitu dipotong ataupun dijual ke Pasar sebagai sapi yang akan dipotong dan bukan sebagai indukan.
Standard Operational Procedure (SOP)
PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN PADA TERNAK SAPI MELALUI PEMERIKSAAN SECARA MANUAL
I. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977, Tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner;
4. Peraturan Menteri Pertanian No. 64/Permentan/OT.140/9/2007 tentang Pedoman Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan);
II. Maksud dan Tujuan
1. Menunjang program peningkatan produktifitas ternak dalam mensuplai swasembada pangan asal hewani;
2. Menanggulangi penyakit gangguan reproduksi pada ternak.
3. Meneguhkan diagnosa umur kebuntingan ternak yang selanjutnya dapat digunakan untuk perkiraan tanggal, bulan dan tahun dari anak sapi tersebut;
4. Mendukung keberhasilan program inseminasi buatan;
5. Meningkatkan pendapatan petani peternak melalui perbaikan status reproduksi ternak;
III. Sasaran / Obyek
1. Pelayanan Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) pada ternak sapi.
2. Ternak sapi yang akan diperiksa sudah berumur minimal 3 bulan sejak dikawinkan, baik kawin melalui IB ataupun kawin alami dengan pejantan;
IV. Petugas PKB dan syarat minimal pendidikan dan atau keahlian :
1. Dokter Hewan Dinas ataupun Dokter Hewan Praktisi yang telah lulus dan mempunyai ijasah Dokter Hewan yang sah dari perguruan tinggi Negeri ataupun Swasta;
2. Staff Dinas yang membidangi Kesehatan Hewan yang berijasah minimal D3 Kesehatan Hewan dan atau telah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan PKB yang diselenggarakan oleh Pemerintah baik Pusat, Propinsi ataupun Kabupaten/Kota dan dibawah Penyeliaan dari Dokter Hewan;
V. Jumlah minimal
Jumlah petugas minimal untuk melakukan pemeriksaan PKB pada ternak sapi sejumlah 1 orang Dokter Hewan dan atau Paramedis dan atau Staff Bidang Kesehatan Hewan (seperti yang disebutkan pada poin IV) yang dibantu oleh 1 orang assisten atau pemilik ternak sendiri.
VI. System Operating Procedure
1. Alat dan Bahan;
a. Kandang jepit dan tali untuk handling / fiksasi ternak yang akan diperiksa (sapi, kambing), yang disiapkan oleh pemilik ternak;
b. Pakaian lapangan (Catel pack);
c. Stetoskop;
d. Alat pengukur suhu badan (termometer);
e. Hand Glove dari plastik tipis ukuran panjang (untuk tangan);
f. Timba / ember plastik;
g. Bahan pelicin untuk tangan (hand body / sabun mandi);
h. Air hangat;
i. Alkohol 70 % (untuk kulit) / Desinfektan (untuk barang);
j. Masker (tutup hidung dan mulut);
k. Sepatu lapangan (sepatu Boot);
l. Alat tulis kertas dan bollpoin;
2. Persiapan handling / fiksasi ternak sapi;
Prinsip dari handling / fiksasi ternak sapi ini yaitu memberikan rasa aman dan nyaman serta tidak menyakiti ternak sapi sesuai dengan prinsip Animal Welfare (kesejahteraan hewan) serta sekaligus memberikan rasa aman kepada petugas selama melakukan pemeriksaan kebuntingan. Adapun tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Sapi yang akan diperiksa dibuat setenang mungking yaitu dengan mengikat bagian keluh ke salah satu ujung depan dari kandang jepit (kiri / kanan);
b. Melilitkan tali ke seluruh bagian tubuh sapi yang mengenai bagian atas lutut sapi baik bagian dari kaki depan dan kaki belakang;
3. Pemeriksaan secara umum kondisi kesehatan ternak sapi oleh Dokter Hewan dan atau petugas pemeriksa PKB lainnya yang meliputi pemeriksaan dan pencatatan :
Petugas Dokter Hewan / Paramedis menanyakan kepada pemilik sapi, kapan sapi terakhir kali dikawinkan . (pemeriksaan PKB secara manual ini hasilnya optimal ketika umur kebuntingan minimal 3 bulan). Apabila umur kebuntingan kurang dari 3 bulan maka sarankan kepada pemilik ternak untuk menunggu sampai jarak perkawinan sapi minimal 3 bulan. Jika jarak perkawinan sudah mencapai minimal 3 bulan maka melakukan tindakan sebagai berikut :
a. Dokter Hewan dan atau petugas pemeriksa PKB, dengan menggunakan stetoskop melakukan pemeriksaan terhadap denyut jantung, nafas dan bagian perut bagian belakang untuk mengetahui kondisi induk dan fetus; dan kemudian melanjutkan pemeriksaan mata, hidung dan mulut;
b. Untuk mengetahui suhu tubuh ternak sapi, ujung termometer badan (digital) dimasukkan ke bagian rectum, dan setelah 3 menit atau setelah ada tanda bunyi, berarti sudah selesai dan termometer di cabut / lepas dari rectum dan dibaca skala ataupun angka yang tercatat di termometer tersebut;
c. Melihat warna bulu tubuh, hal ini dikarenakan induk yang sedang bunting maka akan merangsang hormon tertentu dari tubuh dan selanjutnya akan membuat bulu tubuh lebih halus, lembut dan mengkilat jika dilihat dan diraba/dilihat;
d. Melihat dan memeriksa bagian perut apakah ada perubahan pembesaran dari ukuran normal dan selanjutnya dilakukan palpasi ataupun perabaan, hal ini dikarenakan induk yang bunting akan disertai dengan pembesaan bagian perut dimana besarnya sebanding dengan umur kebuntingan induk;
4. Pemeriksaan PKB secara manual melalui rectum :
a. Pemeriksa PKB yaitu Dokter Hewan dan atau paramedis mengambil dan memasang Hand Glove di kedua tangan baik kanan maupun kiri;
b. Selanjutnya tangan yang sudah terpasang Hand Glove tersebut dibasahi dengan air hangat yang ada di timba / ember dan di olesi dengan pelicin ataupun sabun mandi, hal ini untuk membantu dan memudahkan ketika salah satu tangan kita untuk masuk ke rectum sapi;
c. Petugas mengambil posisi yang dianggap aman tepat menghadap bagian belakang sapi, dimana bagian posisi kedua kaki tidak sejajar melainkan agak miring yang disesuaikan dengan kebiasan petugas; kalau biasa menggunakan tangan kanan maka posisi kaki kanan didepan dan kaki kiri sedikit ditarik ke belakang, dan apabila petugas tersebut biasa menggunakan tangan kiri (kidal) maka kaki kiri ada di depan dan kaki kanannya sedikit ditarik kearah belakang;
d. Misalnya petugas PKB yang terbiasa menggunakan tangan kiri, maka selanjutnya petugas tersebut mengambil bagian ekor dengan tangan kanan dan menyampirkan ke bagian pundak kita bagian kiri agar tidak menutupi bagian rectum pada saat tangan kiri kita masuk ke rectum untuk melakukan pemeriksaan PKB;
e. Selanjutnya petugas memasukkan tangan kiri ke rectum sapi secara hati-hati dan pelan-pelan, kalau ada perejanan dari sapi maka kita hentikan sebentar dan tangan kanan kita atau minta bantuan asisten / pemilik untuk mengurut bagian belakang atas sapi (bagian lumbal) sampai sapi tersebut tidak berontak dan atau merejan, hal ini dikarenakan apabila terjadi perejanan maka tangan kita tidak dapat masuk lebih dalam dari bagian rectum karena adanya penolakan dan dorongan dari dalam rectum sapi;
f. Seteleh sapi tenang maka sedikit tangan kiri yang telah masuk ke rectum dimasukkan lebih dalam lagi menuju kedepan, kalau di depan ada kotoran maka kotoran tersebut harus di keluarkan dari rectum sehingga tidak menghalangi dan mengganggu pemeriksaan PKB;
g. Setelah tangan masuk dan dianggap cukup selanjutnya arahkan tangan kita ke bawah dan berusaha untuk dapat memegang saluran reproduksi bagian servik;
h. Setelah dapat memegang servik maka arahkan tangan kita ke depan atau maju sedikit demi sedikit sambil diraba dan dirasakan bentukan yang ada, (jika ada gerakan induk sapi yang merejan maka kita hentikan sebentar aktivitas perabaan dan lakukan pengurutan pada bagian belakang atas sapi tersebut) ;
i. Selanjutnya kita melakukan pemeriksaan dengan seksama untuk mengamati perubahan dan pembesaran yang terjadi pada uterus sapi ;
j. Setelah dianggap cukup untuk pemeriksaan PKB maka selanjutnya keluarkan tangan kita secara perlahan-lahan;
k. Setelah tangan kita keluar, selanjutnya kita mengambil air yang ada di timba/ember untuk diguyurkan pada bagian belakang rectum dan sekitanya agar bersih kembali;
l. Setelah bagian belakang sapi sudah bersih maka selanjutnya hand glove kita lepaskan dari kedua tangan kita, masker yang menutup hidung dan mulut juga dilepas dan selanjutnya kita buang ditempat sampah, yang selanjutnya dibakar.
m. Meninggalkan kandang maka sepatu harus disemprot dengan desinfektan bagian bawah dan samping untuk mematikan mikroorganisme bibit penyakit yang menempel di sepatu, selanjutnya menuju kamar mandi untuk melepas sepatu dan membersihkannya dengan air sabun dan membilasnya sampai bersih, kemudian berganti dengan sepatu biasa;
n. Begitu pula dengan pakaian catle pack yang kita pakai juga dilepas dan berganti dengan pakaian biasa, dimana pakaian catel pack kita bungkus dengan rapi dan sesampai dirumah dicuci dengan sabun dan dibilas sampai bersih kemudian dikeringkan;
o. Kemudian membersihkan kedua tangan kita dengan air sabun dan dibilas sampai bersih dan terakhir memakai alkohol 70 % untuk desinfektan dan meminimalkan kejadian penyakit kulit;
p. Menyimpulkan dan memberikan diagnosa umur kebuntingan sapi dan selanjutnya disampaikan ke pemilik ternak sapi tersebut;
q. Memberikan advise, saran dan catatan penting kepada pemilik ternak untuk senantiasa memperbaiki dan menjaga manajemen pemeliharaan, pemberian pakan yang baik, berkualitas dan seimbang, serta menjaga kesehatan induk dan calon anak serta melaporkan jika terjadi gangguang kesehatan ternak tersebut;
r. Mencatat semua hasil pemeriksaan mulai awal sampai akhir yang dibutuhkan untuk recording ternak tersebut dan di catat dalam buku kegiatan pelayanan Kesehatan Hewan;
s. Melaporkan kegitan tersebut secara berkala ke pimpinan dan atau ke Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan; atau ke Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur sebagai bentuk kegitan pelayanan kesehatan hewan;
t. Keterangan tambahan, setiap selesai melakukan pemeriksaan PKB diharapkan petugas sesampai dirumah dapat lekas mandi dengan sabun dan dibilas sampai bersih;
5. Monitoring dan evaluasi
a. Senantiasa mengontrol dan mengevaluasi kesehatan induk dan calon anak selama kebuntingan, yaitu dengan kegiatan partisipasi dari pemilik ternak untuk melaporkannya ke petugas;
b. Apabila ada masalah kesehatan berupa gangguan reproduksi yang mengganggu induk dan calon anak selama kebuntingan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh Dokter Hewan dan Petugas Ahli Teknik Reproduksi (ATR);